Berita Properti Rumah – Pasar properti rumah di Indonesia dan dunia pada Januari 2026 menunjukkan tren positif sekaligus tantangan yang perlu di perhatikan oleh pembeli, pemilik rumah, dan pelaku industri. Beragam faktor, mulai dari kebijakan pemerintah hingga kondisi ekonomi global, turut memengaruhi dinamika harga, kredit, dan permintaan hunian.
Pasar Properti Indonesia: Stabil dan Menuju Fase Baru
Pasar rumah di Indonesia di laporkan mulai menunjukkan stabilisasi setelah periode penurunan transaksi dan penyesuaian harga sepanjang 2025. Laporan pasar mencatat kenaikan tipis pada harga rumah second (resale) nasional sebesar 0,2% di Desember 2025, serta pertumbuhan tahunan 0,7%, menandakan pasar mulai menemukan keseimbangannya.
Selain itu, pemerintah memperpanjang kebijakan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) 100% untuk pembelian rumah tapak dan apartemen sampai akhir 2026, memberikan insentif fiskal yang signifikan bagi pembeli rumah. Namun, beberapa pengembang dan analis menyarankan agar insentif ini di buat lebih fleksibel untuk merangsang permintaan dan pertumbuhan pasar.
Kredit dan Permintaan KPR Diprediksi Meningkat
Bank dan analis kredit melihat sinyal kebangkitan pada kredit properti tahun ini, di dorong oleh stimulus pemerintah dan program perumahan nasional. Pertumbuhan kredit properti yang lesu di 2025 di perkirakan akan bangkit kembali pada 2026, terutama jika insentif fiskal dan program Tiga Juta Rumah terus berjalan.
Namun, pembangunan rumah subsidi melalui skema FLPP di beberapa wilayah seperti DIY menghadapi tantangan akibat harga tanah yang tinggi, yang berdampak pada kemampuan menyediakan hunian terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Permintaan Rumah vs Real Estat Komersial
Baca juga: Situasi Pasar Properti Rumah Januari 2026: Harapan Baru dan Tantangan
Meski pasar rumah menunjukkan tanda-tanda pemulihan, beberapa pelaku industri juga mengamati bahwa investasi properti komersial seperti ruko, pergudangan, dan pusat bisnis tetap menarik perhatian investor. Hal ini mencerminkan pergeseran fokus sebagian modal dari segmen hunian ke sektor lain yang di nilai lebih stabil pada kondisi tertentu.
Tren Global yang Berpengaruh
Kondisi pasar rumah global juga menunjukkan gambaran beragam: suku bunga hipotek di Amerika Serikat turun ke level terendah dalam tiga tahun, yang membantu meningkatkan minat pembeli dan penjualan rumah, meskipun total penjualan 2025 masih berada pada level terendah dalam tiga dekade. Sementara itu di pasar Eropa seperti Inggris, permintaan rumah masih lemah meskipun jumlah rumah yang di jual meningkat mencerminkan ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan.
Kesimpulan: Peluang dan Tantangan 2026
Secara umum, tahun 2026 menjanjikan momentum pemulihan pasar properti rumah setelah ketidakpastian 2025. Kebijakan insentif pajak, pertumbuhan kredit properti, dan harga yang stabil menjadi kunci bagi pembeli rumah. Namun, tantangan seperti harga tanah yang tinggi, kebutuhan akan kebijakan yang lebih adaptif, serta dinamika global tetap menjadi faktor yang harus di perhatikan oleh semua pelaku di sektor properti.